Terbentuknya pusat kajian pengendaliaan zoonosis nasional IPB diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam penanganan kasus-kasus zoonosis yang masih belum terselesaikan di negeri tercinta. Tentunya dengan selalu berkoordinasi dengan Komisi Nasional Zoonosis, dengan dukungan berbagai pihak dan stakeholder. Peranan mahasiswa juga sangat diharapkan dalam menyumbangkan pemikiran dan tenaga dalam bersama-sama memecahkan dan menanggulangi kasus-kasus zoonosis.
”Manusya Mriga Satwa Swaka” (Manusia Mendapatkan Kebahagiaan/Kesejahteraan Melalui Hewan)
Sabtu, 28 April 2012
Perjalanan ke Seminar Nasional Zoonosis
Berita akan diadakannya Pusat Kajian Pengendalian
Zoonosis Nasional IPB yang terus masif tersebar di sekitar kampus membuat PC
IMAKAHI IPB penasaran ingin mengetahui lebih lanjut kabar tersebut. Rasa
penasaran ini semakin masif dengan adanya selebaran-selebaran tentang seminar
nasional zoonosis yang di dalamnya digelar lauching zoonosis center yang bukan hanya beredar disekitar FKH saja tetapi
di semua kampus IPB bahkan ramai di dunia maya. Untuk menghilangkan rasa
penasaran itu maka PC IMAKAHI IPB mengambil inisiatif untuk melakukan audiensi
dengan ketua panitia seminar nasional zoonosis yaitu Dr. drh. Heru Setijanto dua hari sebelum pelaksanaan
seminar nasional zoonosis. Pada kesempatan ini PC IMAKAHI IPB diwakili
ketua Didi Riyanto dan Kepala Divisi Zoolipmask Alifiana Fitrianingrum. Dalam
audiensi tersebut Dr. Heru menyampaikan bahwa pengadaan pusat kajian
pengendalian zoonosis nasional karena melihat peluang yang ada pada Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 30 Tahun 2011
tentang Pengendalian Zoonosis yang dijelaskan juga kontribusi
dari perguruan tinggi dalam penanggulangan zoonosis.
Selain itu menurut beliau
IPB juga merupakan institusi yang berkompeten hal ini dengan didukung dengan
disiplin ilmu yang ada di IPB. Seperti kedokteran hewan, peternakan, sosio-ekonomi,
konservasi satwa liar, teknoligi pertanian, ekologi manusia dan perikanan yang
merupakan bidang-bidang sangat erat berkaitan dengan zoonosis. Dr. Heru juga
menyampaikan peranan mahasiswa diperlukan pada penanggulangan zoonosis, dan
beliau berharap agar mahasiswa pun mulai merapatkan barisan untuk memulai
berdiskusi dalam penanganan zoonosis. Tentunya hal ini haruslah dilakukan oleh
mahasiswa dengan lintas disiplin karena zoonosis tidak bisa ditangani dengan satu
disiplin ilmu saja. Beliau juga berharap dari IMAKAHI memulai sebagai pionir
dalam melakukan diskusi-diskusi zoonosis dengan mahasiswa lintas disiplin.
Kamis 19 April 2012 bertempat di IPB ICC (IPB International
Convention Center) PC IMAKAHI IPB menghadiri Seminar Nasional Zoonosis. Seminar ini bertema “Sinergisme Antara Institusi
Perguruan Tinggi, Pemerintah, dan Pemangku Kepentingan dalam Pencegahan dan
Pengendalian Zoonosis untuk Mewujudkan Indonesia Sehat”. Seminar ini juga sekaligus
sebagai launching National Zoonoses
Center, yang merupakan usulan dari FKH IPB kepada IPB sebagai institusi
yang memiliki kompetensi utama di bidang pertanian yang berperan penting di
dalam penelitian, pendidikan, dan pengabdian masyarakat dalam rangka pencegahan,
pengendalian dan pemberantasan zoonosis.
Seminar ini
dihadiri oleh berbagai pembicara seperti Prof. Dr.
H. Kida (Hokkaido University, Jepang), Direktur
Jenderal Pendidikan Tinggi - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Deputi
Meneg PPN/Kepala Bappenas Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan, Dirjen
Pemerintahan Umum Kementerian Dalam Negeri, FAO Indonesia,
WHO Country Office, Prof. Dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc, Prof. Dr. drh. I
Wayan T. Wibawan, MS, dan Prof. Dr. Ani Mardiastuti, M.Sc.
Acara ini juga diisi sambutan dari Dr Emil Agustiono Mkes (epid) Deputi III
Menko Kesra. Beliau menyampaikan akan pentingnya penanganan zoonosis terpadu
yang terangkum dalam One Health.
Beliau juga menyampaikan akan terus memperjuangkan pemenuhan-pemenuhan dokter
hewan dalam kepemerintahan sesuai dengan kebutuhan dan tindakan-tindakan cepat
atas suatu wabah zoonosis.
Terbentuknya pusat kajian pengendaliaan zoonosis nasional IPB diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam penanganan kasus-kasus zoonosis yang masih belum terselesaikan di negeri tercinta. Tentunya dengan selalu berkoordinasi dengan Komisi Nasional Zoonosis, dengan dukungan berbagai pihak dan stakeholder. Peranan mahasiswa juga sangat diharapkan dalam menyumbangkan pemikiran dan tenaga dalam bersama-sama memecahkan dan menanggulangi kasus-kasus zoonosis.
Semoga
Indonesia bisa terbebas dari Zoonosis.
Viva
Vets!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar