”Manusya Mriga Satwa Swaka” (Manusia Mendapatkan Kebahagiaan/Kesejahteraan Melalui Hewan)
Minggu, 05 Februari 2012
Pembenahan Pemotongan Hewan Qurban Searah Animal Walfare
Animal Walfare memang sebuah konsep yang hampir tujuh tahun diperkenalkan oleh OIE (Organisasi Kesehatan Hewan Dunia) ke seluruh penjuru dunia. Konsepan yang diresmikan tahun 2004 ini berisi tentang lima prinsip (five freedom) yaitu terbebas dari rasa lapar dan haus, terbebas dari ketidaknyamanan fisik, terbebas dari sakit, cedera, dan penyakit, bebas mengekspresikan perilaku nalurinya, dan terbebas dari perasaan tertekan dan stres. Akan tetapi dalam perjalanannya konsepan ini kiranya belum menyentuh keseluruhan lapisan masyarakat Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan masih banyaknya masyarakat yang tidak tahu tentang animal walfare terutama masyarakat yang jauh dari perkotaan. Terlebih munculnya tempat jagal baru pada saat Idul Adha, secara otomatis memunculkan tukang jagal baru yang tidak tahu seberapa besar pemahaman terhadap pemotongan hewan qurban. Imbasnya pelaksanaan pemotongan hewan qurban pun di tempat pedesaan masih kurang dari standar yang ada.
Permasalahan ini kiranya perlu pembenahan yang serius. Sehingga pembekalan pengetahuan dan pelatihan terkait pemahaman animal walfare kiranya menjadi salah satu alternatif dalam permasalahan ini. Dengan didukung oleh SDM yang berkompeten dan mencukupi. Selain itu penggunaan media juga merupakan alternatif yang bisa dilaksanakan dengan penayangan tentang pemahaman animal walfare. Dalam hal ini pemerintah bisa bekerjasama dengan stasiun-stasiun televisi dan media cetak untuk mempublish ke masyarakat.
Ketidak pahaman masyarakat tentang animal walfare ternyata tidak menjadi kendala satu-satunya dalam penerapan animal walfare. Kesadaran ternyata juga menjadi faktor lain yang menjadi kendala penerapan animal walfare. Isu-isu beberapa bulan yang lalu terhadap beberapa RPH di Indonesia menjadi salah-satu buktinya, terlepas benar atau tidaknya. Dalam pemeriksaan hewan qurban pun tiap tahunnya tidak sedikit evaluasi-evaluasi yang didapatkan. Berangkat dari situ kiranya perlu pembenahan dalam pemotongan hewan qurban.
Pelaksanaan pemotongan hewan
Pelaksanaan pemotongan hewan qurban meliputi pengadaan hewan sampai pada pemotongan hewan qurban. Hewan qurban biasanya didatangkan dari tempat yang jauh dari tempat pemotongan. Contohnya pemotongan hewan qurban di Bogor pengambilahnya di Garut. Dalam pengadaan hewan qurban ini perlu diperhatikan dan dibenahi mulai dari transportasi. Alat angkut seharusnya dapat memenuhi aspek kenyamanan dan kesehatan hewan. Alat angkut yang digunakan harus membuat hewan merasa comfort seperti luas tempat alat angkut yang sesuai kapasitas pengangkutan, terhindar dari panas dan hujan, dan memenuhi aspek keamanan hewan pada saat diangkut. Selain itu tempat penampungan hewan qurban kiranya perlu dibenahi, karena yang terjadi di lapangan masih banyak hewaan qurban yang disimpan di pinggir jalan dan halaman rumah/masjid tanpa penutup. Padahal tempat penampungan idealnya tertutup sehingga bebas dari panas dan hujan, bersih dan tercukupi makan dan minum. Transportasi dan tempat penampungan hewan kurban ini akan menjadi implikasi buruk bagi hewan apabila tidak sesuai koridor. Hewan qurban bisa stress dan penurunan daya tahan tubuh sehingga mudah terinfeksi agen penyakit.
Pemotongan hewan kurban menjadi perlu pembenahan setelah pengadaan hewan qurban. Pemotongan hewan qurban yang terjadi dilapangan masih banyak sekali yang bertentangan dengan animal walfare sebelum maupun saat pemotongan. Sebelum pemotongan biasa terjadi handling yang tidak sesuai yaitu dengan menarik salah satu kaki dan menjatuhkannya. Padahal pada kondisi tersebut hewan bisa mengalami luka atau cacat yang imbasnya akan mengurangi kesakralan dari qurban. Pemotongan hewan juga biasanya tidak sesuai yaitu melakukan pemotongan pada leher yang berulang kali karena keterbatasan alat dan kurangnya pemahaman. Pemotongan seperti inilah yang kiranya harus dibenahi agar bisa terlaksana sesuai dengan koridor. Handling yang sebisa mungkin tidak menyakiti hewan seperti dengan handling yang tidak memusatkan penarikan pada salah satu kaki tetapi pada beberapa bagian sehingga resiko cedera terkurangi. Pemotongan hewan menggunakan alat pemotong yang tajam dan bersih sehingga hewan tidak tersakiti, penanganan karkas yang digantung, tersedianya air untuk membersihkan, dan tempat pencucian yang berbeda antara jeroan dan daging.
Pembenahan yang terus berkelanjutan dalam pemotongan hewan qurban harapannya dapat memberikan pencerahan. Sehingga permasalahan-permasalahan yang terjadi dilapangan akan terkurangi sampai akhirnya tercipta pemotongan hewan qurban yang searah animal walfare. Tentunya dengan dukungan dan kerjasama baik pemerintah, akademisi dan stakeholder terkait.
*Pengurus IMAKAHI Cabang IPB
Sumber: Majalah Infovet edisi 208-November 2011
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar